Menolak Suara Profetik demi Stabilitas Jemaat: Refleksi Amos 7:10–17 bagi Gereja Masa Kini
Abstrak
Artikel ini menelaah Amos 7:10–17 sebagai sebuah narasi konflik antara suara kenabian dan kepentingan religius-politik institusional, serta menyoroti relevansinya bagi kehidupan gereja masa kini. Perikop tersebut menggambarkan Amazia, imam Betel, yang menolak nubuat Amos untuk menjaga stabilitas kerajaan dan tatanan ibadah yang mapan. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis teks, penelitian ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap kritik kenabian sering dibenarkan melalui alasan tradisi, stabilitas komunitas, dan keamanan institusi. Dinamika serupa juga masih berlangsung dalam gereja modern, di mana kritik yang membangun dan seruan pembaruan kerap diabaikan karena kekhawatiran akan mengganggu praktik yang telah lama berjalan atau memicu keresahan jemaat. Dengan memakai konfrontasi Amos dan Amazia sebagai lensa hermeneutis, artikel ini menegaskan bahwa stabilitas institusi tidak boleh mengesampingkan kebenaran teologis dan integritas moral. Penelitian ini mengajak gereja untuk menumbuhkan keterbukaan terhadap koreksi kenabian sebagai unsur penting kedewasaan rohani dan pembaruan internal yang setia, bukan memandangnya sebagai ancaman bagi kesatuan gerejawi.
##submission.copyrightStatement##
##submission.license.cc.by-sa4.footer##This work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International
for details please go to Copyright Notice Page
