Politik Identitas dan Pengaburan Dialog Antaragama di Media Sosial melalui Analisis Live TikTok
Abstract
Fenomena politik identitas di era digital memengaruhi pola interaksi dan dinamika dialog keagamaan. Penelitian ini menganalisis bagaimana makna dialog antaragama mengalami pengaburan melalui studi kasus siaran langsung TikTok Elia Myron, dengan memanfaatkan teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas serta teori identitas sosial dari Tajfel, Turner, dan Castells. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media sosial, meskipun menyediakan ruang baru bagi perjumpaan lintas iman, justru sering memperdalam polarisasi melalui bias ingroup–outgroup, prasangka sosial, dan klaim kebenaran eksklusif. Interaksi daring yang diamati kerap tidak memenuhi prinsip komunikasi ideal Habermas, seperti kesetaraan partisipasi, kebebasan dari dominasi, dan ketulusan dalam argumentasi. Agama dalam konteks digital tampak ambivalen: dapat menjadi sumber perdamaian, namun juga mudah dijadikan alat konflik identitas. Studi ini menegaskan urgensi etika komunikasi yang membebaskan untuk mengelola dialog antaragama di ruang digital. Praktik komunikasi inklusif dan rasional diperlukan guna membangun ruang publik daring yang dialogis, toleran, dan berorientasi pada perdamaian.
Copyright (c) 2026 Jeremy Lodewyk Frans Pangemanan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
This work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International
for details please go to Copyright Notice Page
