Rekonsiliator atau Provokator: Gereja yang Mampu Mewujudkan Relasi yang Harmonis
Abstract
Penelitian ini mengkaji peran gereja dalam konflik antara umat Kristen dan penghayat kepercayaan Malesung, Organisasi Laroma di Desa Tondei. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara terhadap tiga pelayan khusus, tiga penghayat kepercayaan, dan dua masyarakat, serta observasi dan studi pustaka. Analisis menggunakan teori rekonsiliasi Miroslav Volf. Hasil menunjukkan gereja belum berperan aktif sebagai rekonsiliator, ditandai dengan ketiadaan mediasi, minimnya ruang dialog, serta rendahnya pemahaman terhadap Laroma yang memperkuat stigma dan eksklusi sosial. Sebaliknya, komunitas Laroma menunjukkan keterbukaan melalui partisipasi sosial dan upaya dialog. Temuan ini menegaskan pentingnya praksis rekonsiliasi yang dialogis dan inklusif dalam masyarakat majemuk.

