Pemuda Kristen Sebagai Garam dan Terang: Mewujudkan Inklusivitas di Tengah Masyarakat Plural
Abstract
Konteks kemajemukan etnis, budaya, dan agama di Kota Bitung menghadirkan tantangan sosial sekaligus peluang bagi pemuda gereja untuk menghidupi iman Kristen secara kontekstual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, melalui kajian teologis terhadap Matius 5:13–16 serta telaah literatur tentang pluralisme dan teologi pluralisme, khususnya pemikiran John Hick. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuda GMIM Tasik Wangurer memahami identitas sebagai garam dan terang bukan sekadar perintah moral, melainkan panggilan hidup yang harus diwujudkan dalam karakter, sikap, dan tindakan nyata di tengah kehidupan. Sehingga pada hasilnya pemuda yang menjadi garam mereka yang dipengaruhi oleh iman yang kuat dan berfungsi menjaga nilai-nilai moral agar tidak rusak, serta mampu menghasilkan kebaikan bagi orang lain dan mereka yang menjadi terang itulah yang menjadi kesaksian hidup yang nyata dan terlihat melalui tindakan kasih, keadilan dan kenbenaran.

